Skip to main content

Posts

19

Dan mari kita mulai tulisan ini dengan jiwa yang masih belum bisa move on dari perjalanan kemarin. Alhamdulillah… Sebelum genap menginjak usia 19 tahun, ternyata saya sudah diperkenankan untuk menceklis salah satu life goal saya yang sebenarnya selalu saya pertanyakan kapan bisa jadi nyatanya. Tidak terencanakan dan terbayangkan sama sekali, kalau saya ternyata akhirnya mampu memijak kokohnya sang pancang bumi. Menikmati keindahan yang tersembunyi dibalik ketinggiannya. Menyaksikan awan yang sejajar dengan tempat berdiri. Diterpa sejuknya angin dan hangatnya cahaya matahari. Berjalan di setapak yang kanan-kirinya terhampar padang bunga abadi. Dan masih banyak hal lainnya yang sepanjang hari ini masih saya putar ulang terus di dalam ingatan, yang ketika dibayangkan rasanya saya tidak pernah mau pergi lagi dari sana. Destinasi terbaik sepanjang hidup. Sekali lagi, terimakasih ya Allah atas segala kesempatannya. Semoga diperkenankan untuk meninggalkan jejak di pancang ...

alir rindu tanpa alur

Jatuh cinta dengan sajak ini sejak sekitar satu bulan yang lalu. Tepat ketika lagi rindu-rindunya dan membayangkan rintik hujan Bogor, lalu ternyata menemukan bait-bait yang gak tau kenapa menurut saya indahnya indah banget. Saat itu suasana yang sedang saya rasakan pun bisa dibilang sama persis, jendela kos sedang saya tutup, lampu saya padamkan, dan rintik hujan terdengar merintiki halaman depan kamar. Selain Hujan Bulan Juni, ternyata Pak Sapardi juga punya sajak lain tentang rintik yang selalu saya suka itu, yang ketika saya selami setiap katanya mampu membuat semua rindu itu terbayarkan. Mungkin itulah kenapa judulnya Sihir Hujan. Dan ajaibnya, gak beberapa lama setelah menemukannya, hujan mulai turun di Jatinangor. Menjadi hujan sore hari yang ketiga kalinya sejak saya berada di sini, dan kemudian di hari-hari selanjutnya hujan mulai rutin menyambangi sekotak kecil ranah rantau ini setiap hari. Gak kok, bukan karena saya baca sajaknya terus hujan jadi turun. Sa...

another daughter's fear

Dan untuk yang pertama kalinya, pembicaraan mengenai perihal itu keluar dari mulut sosoknya... Selama kurang lebih 4 bulan menginjak suatu fase kehidupan yang satu tingkat lebih tinggi dibanding sebelumnya dan mengalami berbagai dinamika pendewasaan yang mungkin ketika dibayangkan rasanya seperti tidak bisa menjalaninya, membuat saya tersadar ternyata memang saat ini, saya sedang menderapkan langkah kaki saya pada suatu fase kehidupan yang akan menjadi gerbang menuju terlepasnya saya dari kedua sosok yang seumur hidup telah menjadi tempat saya bergantung. Dan ketika sosok lelaki itu membicarakan tentang kehidupan yang nantinya akan menjadi prioritas baru saya--bahkan melebihi prioritas terhadap keduanya--walau hanya sekejap, air mata saya leleh. Lagi-lagi, mungkin saya takut untuk lepas dari sosoknya dan atau saya takut bahwa tidak ada satu pun laki-laki yang bisa mengalahkan sosoknya di dunia ini, yang berhak menurunkan tingkatannya dalam prioritas untuk saya taati dan patu...
And he has been the person you're always about to cry when meet. _________________________________________________________________________ dalam serangkaian sisa jumpa, selalu ada sekelumit haru yang menelusup di antara serentetan perbincangan singkat, selalu ada bulir hangat yang hampir leleh dan tiba di hari itu, jarak datang membiarkan masih banyak halnya tak tersingkap, tak disuarakan sampai jumpa dalam pertemuan tanpa sua berupa doa-doa di setiap sujudnya

to the birthday girl,

17 Oktober pertama di Jatinangor, Kemampuan berkata-kata entah gimana sekarang kayanya udah sangat berkurang. Dari dulu selalu bingung memulai cerita dan ditambah sekarang semakin gak jago untuk merangkai kata demi kata untuk kalimat-kalimat selanjutnya. Jujur, sebenarnya banyak sekali yang terjadi dan ingin diceritakan, tapi entah kenapa rasanya selalu tersendat dan akhirnya menguap sampai saya sendiri kelupaan. Dan akhirnya memutuskan untuk menulis ini, karena tadi sore rasanya berdosa karena telah bisu sama sekali untuk sekadar mengucapkan selamat... Jadi, di sini aja yaa Selamat 17 Oktober yang ke-18 kalinya, Mel... Kalau terbang ke satu tahun yang lalu, masih ingat betul gimana alurnya. Masih inget kan ya sama ini? Waktu itu habis pulang NF dan masih sangat bisa membayangkan situasinya, perasaan yang menelusup, Bapak penjual soto yang ikut mengucapkan dan memberi doa baik, dan semua detail-detailnya. Waktu itu lagi masa-masanya baru menjejak di tahun terakhi...

Pelabuhan Terbaik

Satu hal yang selalu menghambat saya untuk memulai setiap cerita adalah sulitnya untuk merangkai kata-kata permulaan itu. Dan itu pun terjadi untuk yang satu  ini, yang seharusnya sejak puluhan hari yang lalu sudah mampu terangkai. So here I am. Kepada hari dan malam yang menjadi saksi, di sini saya sekarang menerima jawaban atas apa yang selama ini diperjuangkan. Kepada setiap bulir air mata yang membayar segala keletihan, di sini saya sekarang menyadari bahwa saya telah berada di tempat terbaik yang selama beberapa bulan sebelumnya masih berupa temaram. Kepada dua orang yang paling saya cintai di dunia ini dan para sahabat, dan semua yang telah mengalunkan doa indah agar saya sampai di tujuan utama, maaf karena saya ternyata tidak sampai di sana. Saya memang tahu ke mana arah perahu saya ingin saya labuhkan, tapi hembusan angin dan alur gelombangnya bukan bagian saya untuk mengaturnya. Saya telah berlabuh. Dan Dia Yang Maha Baik ternyata melabuhk...