Skip to main content

Posts

dan tentang segala sesuatu yang datang kemudian lekang, tentang setiap senti ruang yang masih harus dipastikan penghuninya, tentang seluruh detik penantian serta ujian yang menghadangnya entah mengapa, dia masih ingin kamu yang menjadi jawaban akhirnya
this is about an urge for going home, and a tremble in every phone call. a longing for hugging the most loved people, and a feeling of hanker. a lingering thought that should be gone, and a pity to self for being such not helping much. I'm sorry. . . . . May Allah always protect us from that day until whenever.
Ter-ada-ada-aja siang ini adalah menemukan blog seseorang yang isinya menceritakan beberapa orang yang familiar, sangat familiar. Beberapa orang...favorit. Dan kemudian secara spontan ada yang ngalir. Udah taulah alurnya gimana. Saya terharu, terlampau terharu. Dan saya sendiri bingung kenapa semenyenangkan sekaligus semengharukan itu membacanya. Mungkin memang sayanya aja yang juga sedang terlampau merindukan beberapa dari mereka ya? Semoga aja saya gak payah ya karena belum banyak bertemu mereka di rentang Juli sampai September ini.
Untuk setiap abjad yang teruntai menjadi beribu kata; untuk setiap kata yang tertulis, terhapus, kemudian tertulis kembali mencipta beralinea narasi; untuk setiap rima dan larik yang mewakili segala ungkapan dan cerita yang tanpa terasa mengalun mewujud berbait sajak; Ternyata, tanpa Kamu sadari sebagian besarnya Kamu buat untuk pertahananmu, sebagian besarnya Kamu ciptakan untuk mencoba tutupi apa yang sebenarnya Kamu rasakan, dan betapa tidak besar hatinya Kamu untuk sekedar mengakui bahwa sebagian besarnya adalah tentang Kamu sendiri. Atau Kamu memang hanya mencoba mengingatkan dirimu sendiri? Dengan menghadirkan "Dia" buatanmu sendiri, atau sama seperti kalimat-kalimat yang sedang kamu tulis ini, "Kamu" (dan beberapa "Dia"-mu) sesungguhnya tertuju pada "Aku"

alien

mungkin dalam duniamu yang terdalam hanya segelintir saja yang mampu bersemayam dan segala hiruk pikuk yang kamu sambangi, setiap kelimun yang kamu silakan bersandang diri, bahkan belum separuhnya berhasil menyelami sampai bagian jiwamu yang terhakiki mungkin dalam kontemplasimu yang termakrifat hanya satu-dua saja yang mampu memahami sampai hilang sekat dan setiap kesibukan dunia yang kamu perhatikan, sesederhana angin yang membelai manja kehidupan, atau serumit perkara hati yang kadang kamu tertawakan, sekedar saja maknanya untuk ribuan yang ritmenya tak padan lalu kamu pun tersadar selalu ada ruang suar yang sanggup isyaratkan terangnya hanya ketika kamu terjaga semalaman memainkan rima dan kata yang kamu harap terbaca sampai mampu buktikan kapasitasnya namun yang juga kamu sembunyikan setengah mati sampai tidak ada satu kerlingan pun yang meliriki